CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 21 Mei 2014

Yang mana..

Gak ada hubungan lama yang gak berangin kencang
Gak mungkin suatu hubungan lama tanpa melalui ombak besar
Tak banyak memang yang bertahan
Tapi tak sedikit juga yang tidak menyudahi semua ketika angin dan ombak menerjang bersamaan
Kembali lagi pada kita
Kembali lagi kepada ingin kita
Kembali lagi ke hati kita apa maunya
Mungkin untuk sesuatu hal, masalah itu memang harus ada agar kita tau bagaimana rasanya berusaha
Memang harus terjadi agar kita tau bagaimana rasanya bertahan melewati jalan rusak dan berlobang hingga mual tapi akhirnya sampai pada bahagia
Tapi sebelumnya bisakah saya bertanya?
Lalu masalah yang bagaimana yang menguatkan kita?
Masalah seperti apa yang hanya menguji kesabaran kita?
Apa tandanya jika itu masalah hanya untuk mengingatkan kita bahwa jalan kita tidak lagi sama, harus ada tali yang diulur menjauh perlahan, harus ada hati yang pelan-pelan membuka ikatan?
Dimana terdapat perbedaan antara masalah-masalah itu?
Mana yang sedang saya lewati?

Jumat, 16 Mei 2014

kejadian ini bisa disebut apa?
jika dua raga saling memiliki namun tak ada hati
melakukan persinggahan sana sini
namun juga tak ada yang beranjak
lalu menunggu siapa?

benarkah yang kita lalui ini
harus bagaimana selanjutnya?
dihentikan? tak ada yang ingin
diteruskan? lalu untuk apa

bisakah kita benar-benar dalam  ruang yang sama
dalam satu pikiran yang tak beda
lalu mencari jalan tengah yang terbaik

aku jengah aku muak
aku lelah lalu menghilang

Kamis, 10 April 2014

Kosong

Kenangan itu sedikit demi sedikit tergantikan dengan ragu
Jejak langkah dan tujuan kita berubah warna jadi abu-abu
Aku merasakan sesuatu yang tidak dari biasanya
Aku menamainya dengan realistis.

Mungkin untuk hembusan nafas di awal kita masih menggebu akan impian dan harapan yang penuh
Tapi setelah menjalani kenyataannya, akankah rasa itu sama?
Setelah melewati rintangan, lalu rintangan lagi dan rintangan selanjutnya

Cobaan awal masih bisa ditutupi dengan rasa yang besar dikedua belah pihak
Masih lagi kah akan sama jika pihak pihak itu tak lagi menjejakkan kakinya pada satu tempat tumpuan?

Tangan yang dulunya saling menggenggam erat penuh pasti, lalu berganti dengan genggaman lewat doa
Pasti kah akan sama jika namanya tak lagi disebut dalam doa untuk digenggam?

Mataku dan matamu tak lagi berjumpa menatap dalam jangka waktu yang lama, sementara itu ratusan mata lain yang akan kita tatap silih berganti
Dilain waktu, tetap kah hanya tatapanku yang dapat mengiring detakan jantung ini ke jantungmu?

Ini bukan pesimis, ini soal kenyataan
Aku bukan menyerah pada keadaan
Atau bahkan membuang sisa waktu 

Minggu, 30 Maret 2014

Buat Kamu

31 Maret 2014, 03:14
Bukan salah keadaan ini yang mengharuskan kita terpisah sementara dan saling meyakini diri bahwa akan ada suatu saat nanti pertemuan yang membahagiakan
Ini bukan salah waktu yang terlalu menyiksa, atau merindu pada seseorang yang tak dapat dijangkau bahkan jarak yang terlalu semu merangkak menjauhi tiap-tiap bait kebahagiaan yang telah kita buat
Aku tak menyalahkan apa dan siapa bahkan bagaimana bisa aku berdiri disini dengan sakit yang tak luka merah dan berdarah
Aku hanya tak mampu lagi mendeskripsikan keajaiban-keajaiban Tuhan Yang Maha Sempurna, aku tak mampu mengeja setiap susunan peristiwa yang tak disangka dan berlalu, aku tak dapat mengingat bagaimana rasanya aku terjatuh dan terbangun disaat yang hampir bersamaan

"Yang saya tau ini semua istimewa, dilihat dari sisi manapun semua ini berharga. Kamu mengajarkan saya banyak hal. Kamu mengajarkan saya sesuatu yang saya tidak ketahui sebelumnya. Kamu memberi ilmu bukan dengan menggurui. Kamu mengajarkan saya dengan sifat&sikapmu. Saya terpesona. Pada saat itu cukup saya dan Tuhan yang tau"

Memetik harap, menanam usaha, memupuk ketekunan lalu menuai keberhasilan
Kamu
Iya kamu yang aku sebutkan namanya dalam hati ketika menulis kata-kata ini
Aku kangen kamu.

Minggu, 23 Maret 2014

Suatu Saat Nanti

Kesabaran adalah jawaban terbaik yang bisa dimiliki setiap makhluk penuh tanya bernama manusia. Di suatu tempat di dalam hati, aku meyakini dunia masih cukup sempit untuk mempertemukan kita kembali. Entah apa yang akan terjadi saat itu. Aku mungkin serasa bermimpi dan tak ingin bangun. Aku mungkin tak sanggup menatap matamu dan menahan segala rasa rindu yang tersimpan begitu lama. Dan, kau mungkin akan memandangku dengan senyum jenaka seperti dahulu, seolah-olah jarak dan waktu tak pernah memisahkan raga kita yang pernah bersama. Jika Tuhan mengizinkan, apapun bisa terjadi, bukan?

Rabu, 19 Maret 2014

Sunyi Ini Milikku

Pagi ini. Sepi. Kerap kali pagi seperti ini terasa semenjak kepergianmu. Perpisahan itu datangnya darimana? Kenapa begitu menyakitkan? Kenapa rasanya 'aku tak kuasa lagi'? Bukan perasaan seperti ini yang ku cari. Tapi entahlah kejadian ini datang sendiri, menghampiri ku bahkan yang tak siap apa-apa

Layaknya pagi yang sudah lewat, aku bangun dan mempersiapkan segalanya. Juga menata kekosongan demi kekosongan. Ku jatuhkan pandangan ke layar handphone, tak berkutik, sunyi, ya sesunyi pagi ini. Ku acuhkan benda mati itu, ku tumpuk di antara buku-buku didalam tas sekolahku. Aku pergi. Dengan sepi. 

Sepanjang perjalanan hanya tatapan lurus seperti tanpa tujuan. Mau kemana sepi? Mau dibawa kemana rindu ini? Hatiku mati. Apa yang telah terjadi sampai lukanya terasa tak bertepi? Atau aku terlalu hyperbola, atau memang kenanganmu yang terlalu tak bisa dilupakan?

Sampai ditempat tujuan. Aku melangkahkan kakiku, menyapu debu dengan sepatuku. Aku tak dapat menahan rindu. Aku juga bukan manusia yang hidup berakarkan kesetiaan. Tapi rindu ini tak bisa dibalas dengan penghianatan. Lalu dimana harusnya aku lepas sesak ini? 

Aku duduk, menaruh tas dimeja dan diam, menunggu guru datang dan memberikan pelajaran. Hari ini seperti biasa kan? Tak ada yang lebih dan kurang. Handphone? Tentu tetap berdiam diri dibarisan buku-buku cantik ku. Berniat untuk mengambilnya pun tidak, aku tau tidak akan ada tanda kehidupan didalamnya, membuatku tambah merasa, ini sunyimu.

Pelajaran pertama usai. Yang ditunggu telah datang pada jamnya seperti biasa hadir. Kalian kira sunyi ini berganti gaduh? Tidak. Ini akan tetap menjadi sunyi. Percakapan yang selalu kami bahas setiap harinya. Adakah lain yang bisa kami perbuat selain ini? Aku melengos benci, lelah. Aku tau perbuatan kami ini seperti menjemput asa tanpa tujuan berarti. Namun tak dapat berdelik. Asa tanpa tujuan itu yang ku tuju. Kesunyian merembet lelah itu yang menyongsong semangatku. 

Bel tanda istirahat berbunyi, terdengar riuh rendah, disapa hembusan nafas kemenangan disetiap murid yang mendengarnya. Aku? Ha! Kemenangan yang paling indah adalah melepas sunyi. Ini masih tak berarti apa-apa. Engkau masih sama, masih disana. 

Bel terakhir yang akan aku dengar hari ini berbunyi dan cukup menentramkan. Setidaknya aku bisa bertemu dengan temanku. Kalian tanya apa kabar aku? Masih sama seperti pagi. Sunyi.

Untuk sampai membuat tulisan ini, dibutuhkan beberapa hari kesadaran hati dan jiwa bahwa 'jadi selama berbulan-bulan hidup yang ku jalani ya begini begini saja?' Setiap harinya setiap harinya. Berteman dengan sunyi bukan keahlianku. Tapi ini apa? Ku serukan namamu, hanya dalam hati. Biar tetap berjalan dengan sunyi. 

Aku.
Aku yang baru sadar.
Aku melewati hari-hari.
Aku dengan sunyi.

Kamis, 13 Maret 2014

Aku? Cemburu? HAHAHAHAHAHA ya!

Aku cemburu dengan orang-orang di sekitarmu

Aku cemburu kepada mereka yang setiap saat dapat bertemu denganmu tanpa terhalang jarak dan waktu

demi Tuhan, aku cemburu kepada mereka yang selalu mampu menikmati senyum dan tawamu yang kau hadirkan di hari-harimu

Dan lebih-lebihnya aku cemburu kepada orang-orang di sekelilingmu yang selalu bisa berkomunikasi denganmu kapanpun mereka mau

Katakan pada mereka aku mencemburuinya..