Pagi ini. Sepi. Kerap kali pagi seperti ini terasa semenjak kepergianmu. Perpisahan itu datangnya darimana? Kenapa begitu menyakitkan? Kenapa rasanya 'aku tak kuasa lagi'? Bukan perasaan seperti ini yang ku cari. Tapi entahlah kejadian ini datang sendiri, menghampiri ku bahkan yang tak siap apa-apa
Layaknya pagi yang sudah lewat, aku bangun dan mempersiapkan segalanya. Juga menata kekosongan demi kekosongan. Ku jatuhkan pandangan ke layar handphone, tak berkutik, sunyi, ya sesunyi pagi ini. Ku acuhkan benda mati itu, ku tumpuk di antara buku-buku didalam tas sekolahku. Aku pergi. Dengan sepi.
Sepanjang perjalanan hanya tatapan lurus seperti tanpa tujuan. Mau kemana sepi? Mau dibawa kemana rindu ini? Hatiku mati. Apa yang telah terjadi sampai lukanya terasa tak bertepi? Atau aku terlalu hyperbola, atau memang kenanganmu yang terlalu tak bisa dilupakan?
Sampai ditempat tujuan. Aku melangkahkan kakiku, menyapu debu dengan sepatuku. Aku tak dapat menahan rindu. Aku juga bukan manusia yang hidup berakarkan kesetiaan. Tapi rindu ini tak bisa dibalas dengan penghianatan. Lalu dimana harusnya aku lepas sesak ini?
Aku duduk, menaruh tas dimeja dan diam, menunggu guru datang dan memberikan pelajaran. Hari ini seperti biasa kan? Tak ada yang lebih dan kurang. Handphone? Tentu tetap berdiam diri dibarisan buku-buku cantik ku. Berniat untuk mengambilnya pun tidak, aku tau tidak akan ada tanda kehidupan didalamnya, membuatku tambah merasa, ini sunyimu.
Pelajaran pertama usai. Yang ditunggu telah datang pada jamnya seperti biasa hadir. Kalian kira sunyi ini berganti gaduh? Tidak. Ini akan tetap menjadi sunyi. Percakapan yang selalu kami bahas setiap harinya. Adakah lain yang bisa kami perbuat selain ini? Aku melengos benci, lelah. Aku tau perbuatan kami ini seperti menjemput asa tanpa tujuan berarti. Namun tak dapat berdelik. Asa tanpa tujuan itu yang ku tuju. Kesunyian merembet lelah itu yang menyongsong semangatku.
Bel tanda istirahat berbunyi, terdengar riuh rendah, disapa hembusan nafas kemenangan disetiap murid yang mendengarnya. Aku? Ha! Kemenangan yang paling indah adalah melepas sunyi. Ini masih tak berarti apa-apa. Engkau masih sama, masih disana.
Bel terakhir yang akan aku dengar hari ini berbunyi dan cukup menentramkan. Setidaknya aku bisa bertemu dengan temanku. Kalian tanya apa kabar aku? Masih sama seperti pagi. Sunyi.
Untuk sampai membuat tulisan ini, dibutuhkan beberapa hari kesadaran hati dan jiwa bahwa 'jadi selama berbulan-bulan hidup yang ku jalani ya begini begini saja?' Setiap harinya setiap harinya. Berteman dengan sunyi bukan keahlianku. Tapi ini apa? Ku serukan namamu, hanya dalam hati. Biar tetap berjalan dengan sunyi.
Aku.
Aku yang baru sadar.
Aku melewati hari-hari.
Aku dengan sunyi.