CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 30 Maret 2014

Buat Kamu

31 Maret 2014, 03:14
Bukan salah keadaan ini yang mengharuskan kita terpisah sementara dan saling meyakini diri bahwa akan ada suatu saat nanti pertemuan yang membahagiakan
Ini bukan salah waktu yang terlalu menyiksa, atau merindu pada seseorang yang tak dapat dijangkau bahkan jarak yang terlalu semu merangkak menjauhi tiap-tiap bait kebahagiaan yang telah kita buat
Aku tak menyalahkan apa dan siapa bahkan bagaimana bisa aku berdiri disini dengan sakit yang tak luka merah dan berdarah
Aku hanya tak mampu lagi mendeskripsikan keajaiban-keajaiban Tuhan Yang Maha Sempurna, aku tak mampu mengeja setiap susunan peristiwa yang tak disangka dan berlalu, aku tak dapat mengingat bagaimana rasanya aku terjatuh dan terbangun disaat yang hampir bersamaan

"Yang saya tau ini semua istimewa, dilihat dari sisi manapun semua ini berharga. Kamu mengajarkan saya banyak hal. Kamu mengajarkan saya sesuatu yang saya tidak ketahui sebelumnya. Kamu memberi ilmu bukan dengan menggurui. Kamu mengajarkan saya dengan sifat&sikapmu. Saya terpesona. Pada saat itu cukup saya dan Tuhan yang tau"

Memetik harap, menanam usaha, memupuk ketekunan lalu menuai keberhasilan
Kamu
Iya kamu yang aku sebutkan namanya dalam hati ketika menulis kata-kata ini
Aku kangen kamu.

Minggu, 23 Maret 2014

Suatu Saat Nanti

Kesabaran adalah jawaban terbaik yang bisa dimiliki setiap makhluk penuh tanya bernama manusia. Di suatu tempat di dalam hati, aku meyakini dunia masih cukup sempit untuk mempertemukan kita kembali. Entah apa yang akan terjadi saat itu. Aku mungkin serasa bermimpi dan tak ingin bangun. Aku mungkin tak sanggup menatap matamu dan menahan segala rasa rindu yang tersimpan begitu lama. Dan, kau mungkin akan memandangku dengan senyum jenaka seperti dahulu, seolah-olah jarak dan waktu tak pernah memisahkan raga kita yang pernah bersama. Jika Tuhan mengizinkan, apapun bisa terjadi, bukan?

Rabu, 19 Maret 2014

Sunyi Ini Milikku

Pagi ini. Sepi. Kerap kali pagi seperti ini terasa semenjak kepergianmu. Perpisahan itu datangnya darimana? Kenapa begitu menyakitkan? Kenapa rasanya 'aku tak kuasa lagi'? Bukan perasaan seperti ini yang ku cari. Tapi entahlah kejadian ini datang sendiri, menghampiri ku bahkan yang tak siap apa-apa

Layaknya pagi yang sudah lewat, aku bangun dan mempersiapkan segalanya. Juga menata kekosongan demi kekosongan. Ku jatuhkan pandangan ke layar handphone, tak berkutik, sunyi, ya sesunyi pagi ini. Ku acuhkan benda mati itu, ku tumpuk di antara buku-buku didalam tas sekolahku. Aku pergi. Dengan sepi. 

Sepanjang perjalanan hanya tatapan lurus seperti tanpa tujuan. Mau kemana sepi? Mau dibawa kemana rindu ini? Hatiku mati. Apa yang telah terjadi sampai lukanya terasa tak bertepi? Atau aku terlalu hyperbola, atau memang kenanganmu yang terlalu tak bisa dilupakan?

Sampai ditempat tujuan. Aku melangkahkan kakiku, menyapu debu dengan sepatuku. Aku tak dapat menahan rindu. Aku juga bukan manusia yang hidup berakarkan kesetiaan. Tapi rindu ini tak bisa dibalas dengan penghianatan. Lalu dimana harusnya aku lepas sesak ini? 

Aku duduk, menaruh tas dimeja dan diam, menunggu guru datang dan memberikan pelajaran. Hari ini seperti biasa kan? Tak ada yang lebih dan kurang. Handphone? Tentu tetap berdiam diri dibarisan buku-buku cantik ku. Berniat untuk mengambilnya pun tidak, aku tau tidak akan ada tanda kehidupan didalamnya, membuatku tambah merasa, ini sunyimu.

Pelajaran pertama usai. Yang ditunggu telah datang pada jamnya seperti biasa hadir. Kalian kira sunyi ini berganti gaduh? Tidak. Ini akan tetap menjadi sunyi. Percakapan yang selalu kami bahas setiap harinya. Adakah lain yang bisa kami perbuat selain ini? Aku melengos benci, lelah. Aku tau perbuatan kami ini seperti menjemput asa tanpa tujuan berarti. Namun tak dapat berdelik. Asa tanpa tujuan itu yang ku tuju. Kesunyian merembet lelah itu yang menyongsong semangatku. 

Bel tanda istirahat berbunyi, terdengar riuh rendah, disapa hembusan nafas kemenangan disetiap murid yang mendengarnya. Aku? Ha! Kemenangan yang paling indah adalah melepas sunyi. Ini masih tak berarti apa-apa. Engkau masih sama, masih disana. 

Bel terakhir yang akan aku dengar hari ini berbunyi dan cukup menentramkan. Setidaknya aku bisa bertemu dengan temanku. Kalian tanya apa kabar aku? Masih sama seperti pagi. Sunyi.

Untuk sampai membuat tulisan ini, dibutuhkan beberapa hari kesadaran hati dan jiwa bahwa 'jadi selama berbulan-bulan hidup yang ku jalani ya begini begini saja?' Setiap harinya setiap harinya. Berteman dengan sunyi bukan keahlianku. Tapi ini apa? Ku serukan namamu, hanya dalam hati. Biar tetap berjalan dengan sunyi. 

Aku.
Aku yang baru sadar.
Aku melewati hari-hari.
Aku dengan sunyi.

Kamis, 13 Maret 2014

Aku? Cemburu? HAHAHAHAHAHA ya!

Aku cemburu dengan orang-orang di sekitarmu

Aku cemburu kepada mereka yang setiap saat dapat bertemu denganmu tanpa terhalang jarak dan waktu

demi Tuhan, aku cemburu kepada mereka yang selalu mampu menikmati senyum dan tawamu yang kau hadirkan di hari-harimu

Dan lebih-lebihnya aku cemburu kepada orang-orang di sekelilingmu yang selalu bisa berkomunikasi denganmu kapanpun mereka mau

Katakan pada mereka aku mencemburuinya..

Selasa, 04 Maret 2014

Kekuatanku

Aku teringat kejadian beberapa tahun silam
Tepat aku menginjak kelas 2 SMP
Iya, kejadian yang semua orang tak menginginkan itu terjadi di kehidupan mereka
Aku tak bisa menyebutkan itu apa
Aku hanya ingin mengutarakan perasaan sedihku saja
Aku ingin berbagi, aku tak kuat menyimpan seorang diri

Entah pada masa itu aku terlalu kecil, polos dan naif atau apa
Aku tak merasakan sakit dan efek yang melukai dalam hatiku
Hingga aku menginjak masa SMA
Dan aku merasa kehilangan
Hingga pernah suatu malam nangisku tersedu, terisak
Aku teringat kenangan kenangan pembangkit suasana menjadi lebih mencekam sadis
Aku kangen
Aku sedih
Aku ingin kembali di masa itu dan merubahnya
Tapi terlambat
Apapun yang terjadi di masa lalu jika kita membahasnya sekarang sama saja dengan sia-sia
Tidak akan ada satu kejadian pun yang berubah
Semua tetap sama

Mungkin yg bisa dirubah hanya hatiku
Keikhlasanlah kuncinya
Sakitnya itu pasti
Kejadian itu seperti bambu runcing yg siap mengoyak perasaanku kapan saja ketika mengingatnya
Sampai kapanpun tetap akan begitu
Namun hatiku akan lebih tenang menghadapi sakitnya
Allah memeluk ku, dengan sakit yang ku ikhlaskan.